The Great Transformation (Karl Polanyi)

Menurut Polanyi faktor-faktor sosial merupakan faktor yang menjelaskan tinggi-rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Sumber argumen tersebut dapat ditemukan dalam karya klasik Karl Polanyi (1944), The Great Transformation. Polanyi dalam buku tersebut mengemukakan, bahwa proses-proses pasar dan ekonomi melekat (embedded) pada pranata-pranata sosial yang ada.

Kajian Polanyi merupakan hasil refleksi mendalam terhadap faktor ekonomi dan politik dari runtuhnya peradaban Eropa abad ke-19. Dalam bukunya, ia mengidentifikasi ada empat institusi yang menjadi pilar peradaban waktu itu: keseimbangan kekuatan internasional (the international balance of power), standar harga emas (the gold standard), mekanisme pasar bebas (self regulating markets), dan negara yang bersikap liberal (the liberal state). Polanyi berpendapat, bahwa self regulating market merupakan pilar yang paling penting dan menentukan dari keempatnya. Pasar bebas tidak hanya merupakan sumber dari munculnya suatu peradaban baru saat itu, tetapi juga yang paling bertanggungjawab atas runtuhnya peradaban yang ada setelah perang dunia pertama. Polanyi percaya, bahwa ekonomi pasar tidak akan bisa bertahan untuk waktu tertentu tanpa menghancurkan masyarakat di sekitarnya. Hal tersebut terjadi, bukan saja karena pasar bebas sangat mengutamakan hubungan-hubungan ekonomi semata, tetapi juga karena sistem ideal dari ekonomi baru menuntut adanya penolakan terhadap status sosial umat manusia.

Polanyi lebih lanjut mengidentifikasi bahwa pasar bebas telah mendorong pabrik-pabrik (industri) telah menghancurkan kebutuhan umat manusia, dengan cara menghancurkan masyarakat sebagai satu komunitas menjadi atom-atom lepas yaitu manusia individual. MacIver menggarisbawahi pesan Polanyi ini dalam kata pengantar buku Polanyi untuk edisi tahun 1957 sebagai berikut bahwa manusia gagal untuk menyadari apa arti kohesi suatu komunitas. Esensi dasar hidup manusia dihancurkan dan dilanggar. Berbagai masalah yang berkaitan dengan pengendalian sosial dari sebuah perubahan yang dasyat tidak mendapat hirauan; pemikiran filsafat yang optimistik mengaburkannya, kepentingan sesaat bersekongkol dengan kepentingan kekuasaan menyembunyikannya, sementara kebajikan yang ditunggu belum juga muncul.

Secara lebih spesifik, Polanyi juga menjelaskan mengenai perilaku ekonomi. Ia berpendapat bahwa perilaku ekonomi sesungguhnya melekat di dalam hubungan-hubungan sosial yang berlangsung setiap hari:

“The outstanding discovery of recent historical and anthropological research is that man’s economy, as a rule, is submerged in his social relationships. He does not act so as to safeguard his individual interest in the possession of material goods; he acts so as to safeguard his social standing, his social claims, his social assets.” (Polanyi 1944:46)

(Penemuan luar biasa dari penelitian sejarah dan antropologi saat ini adalah, bahwa ekonomi umat manusia, sebagai suatu aturan, melekat dalam hubungan-hubungan sosial. Orang tidak melakukan tindakan ekonomi dalam rangka melindungi kepentingan individualnya untuk memiliki barang-barang material, melainkan bertindak untuk melindungi status sosialnya, tuntutan sosialnya, serta aset sosialnya).

Untuk memperkuat argumennya, Polanyi mengangkat hasil penelitian Bronislaw Malinowski mengenai masyarakat Trobiand di kepulauan Melanesia Barat. Malinowski mengemukakan, bahwa perilaku ekonomi masyarakat Trobiand tidak hanya berlandaskan pada motivasi ekonomi, melainkan pada hubungan timbal-balik dalam perkawinan dan kekeluargaan serta redistribusi susunan kekuasaan dan stratifikasi sosial. Dalam masyarakat semacam itu, menurut Polanyi, sistem ekonomi hanyalah merupakan fungsi dari organisasi sosial (Polanyi 1944:49). Lebih lanjut Polanyi mengemukakan, bahwa prinsip ini juga berlaku di dalam masyarakat modern seperti masyarakat Eropa (ibid.: 55).

Pesan penting yang disampaikan Karl Polanyi dari analisis terhadap pengalaman Eropa Barat setelah Perang Dunia I adalah, membawa kembali masyarakat dan tatanan sosial untuk diperhitungkan dalam memahami tindakan-tindakan ekonomi. Polanyi menemukan jawaban terhadap masalah-masalah ekonomi, dalam hubungan-hubungan sosial yang tidak terhancurkan. MacIver ketika memberikan pengantar terhadap tulisan Polanyi menulis juga bahwa apa yang dibutuhkan saat ini adalah penegasan kembali, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan saat ini, nilai-nilai esensial dari hidup manusi. Dari Polanyi orang dapat belajar untuk mencari di luar alternatif-alternatif yang tidak memadai yang biasa diperolehnya, menerima tidak lebih jauh dari liberalisme, menerima mentah-mentah kolektivisme, atau pengingkaran terhadap ahli ramal dari individualisme, untuk itu semua cenderung membuat sistem ekonomi menjadi tujuan utama. Hanya dengan mengutamakan masyarakat, persatuan umat manusia yang inklusif saling tergantung, yang terhadapnya kita dapat berharap untuk melebihi kebingungan dan kontradiksi-kontradiksi yang terjadi saat ini.

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s